kerenjasa.MU.com | BOGOR
Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, menggelar Workshop Kelurahan Siaga Digital, di Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Sabtu, 16 Mei 2026.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) bertema “Proteksi Data Pribadi dan Sosialisasi Pinjaman Online Legal bagi Anggota Kader Kelurahan Sindang Barang, Bogor” itu, bertujuan meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran warga dalam melindungi data pribadi saat menggunakan layanan keuangan digital.
Workshop diikuti para kader Kelurahan Sindang Barang, dihadiri Sekretaris Kelurahan Sindang Barang Emang Fahruzaman, S.E., bersama sejumlah staf. Perwakilan BNI, Ella Dwiyanti., SE.,MM dan tim, turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Tim PKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta terdiri atas Siti Hidayati, S.E., M.M.; Dr. Ranila Suciati, S.E., M.M., CFP.; Dr. Sri Mulyantini, S.E., M.M.; dan Kevin Naufal Widyadharma, S.M., M.MT.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat, rendahnya literasi keuangan, kerentanan ekonomi keluarga, risiko gagal bayar, serta meningkatnya ancaman kejahatan siber dan penyalahgunaan data pribadi.
Dalam workshop, peserta memperoleh edukasi mengenai cara mengenali pinjaman online legal, menghitung bunga dan biaya administrasi, menilai kemampuan membayar cicilan.
Serta melindungi data pribadi dari akses aplikasi yang tidak bertanggung jawab. Tim pengabdi juga menyerahkan secara simbolis buku saku “Warga Cerdas Financial”
Mayoritas Responden Belum Miliki Tabungan di Bank
Sebelum menyelenggarakan workshop, tim UPN Veteran Jakarta melakukan survei awal terhadap 70 warga Kelurahan Sindang Barang. Responden terdiri atas 63 perempuan dan tujuh laki-laki dengan rata-rata usia 39 tahun.
Hasil survei menunjukkan, akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal masih relatif rendah. Sebanyak 44 responden atau sekitar 63 persen belum memiliki tabungan di bank. Sementara itu, hanya tiga responden yang pernah memperoleh pinjaman dari bank umum atau Bank Perkreditan Rakyat.
Keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal, membuat sebagian warga lebih dekat dengan layanan pinjaman informal.
Sebanyak 11 responden mengaku pernah mengalami persoalan dengan praktik pinjaman yang dikenal sebagai “Bank Emok”, sedangkan sembilan responden pernah berurusan dengan bank keliling.
Layanan pinjaman yang mendatangi warga secara langsung, dinilai lebih mudah dijangkau dibandingkan layanan perbankan formal. Namun, kemudahan tersebut kerap disertai bunga tinggi dan skema pembayaran yang berpotensi membebani keuangan keluarga.
Informasi Pinjol Banyak Fiperoleh dari Media Sosial
Survei menemukan 50 responden, atau sekitar 71 persen sering mendengar informasi mengenai pinjaman online dan layanan paylater. Informasi tersebut terutama diperoleh melalui iklan di media sosial serta percakapan dengan tetangga.
Tingginya paparan informasi, belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai risiko layanan keuangan digital. Layanan paylater dan pinjaman yang terintegrasi dengan platform perdagangan elektronik menjadi jenis layanan yang cukup banyak digunakan warga.
Dari sisi kebutuhan, sebanyak 30 responden menggunakan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan mendesak, seperti membeli bahan pangan dan obat-obatan serta membayar biaya pendidikan. Sebanyak 15 responden menggunakan pinjaman untuk membeli barang konsumtif, antara lain telepon seluler dan pakaian.
Sementara itu, hanya delapan responden yang memanfaatkan dana pinjaman sebagai modal usaha. Temuan tersebut menunjukkan pinjaman digital lebih banyak digunakan untuk menutup kebutuhan rumah tangga dan konsumsi dibandingkan kegiatan produktif.
Tujuh Persen Memahami Bunga dan Biaya Pinjaman
Rendahnya pemahaman mengenai bunga dan biaya, pinjaman menjadi salah satu temuan penting dalam survei. Hanya lima responden atau sekitar tujuh persen yang mengaku memahami secara terperinci bunga dan biaya administrasi yang harus dibayarkan.
Sebanyak 37 responden, mengaku lebih mengutamakan kecepatan pencairan dana tanpa terlebih dahulu menghitung beban bunga dan biaya lainnya. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap keterlambatan pembayaran. Sebanyak 43 responden atau sekitar 61 persen mengaku pernah terlambat membayar tagihan.
Hanya 20 responden yang menilai layanan pinjaman benar-benar membantu. Sebagian responden lainnya mengaku pinjaman justru menjadi beban, menimbulkan kecemasan akibat tagihan, atau memperberat kondisi keuangan keluarga.
Tim PKM menilai pinjaman digital dapat menjadi solusi sementara dalam keadaan darurat. Namun, tanpa pemahaman mengenai bunga, denda, tenor, dan kemampuan membayar, pinjaman tersebut berisiko berubah menjadi jerat utang.
Warga Diminta Berhati-hati Memberikan Akses Data
Selain literasi keuangan, workshop menekankan pentingnya perlindungan data pribadi. Warga diminta berhati-hati ketika sebuah aplikasi meminta izin untuk mengakses daftar kontak, galeri foto, lokasi, kamera, dan data lain yang tersimpan di telepon seluler.
Pemberian akses secara sembarangan dapat membuka peluang terjadinya penyalahgunaan data. Dalam sejumlah kasus pinjaman online ilegal, data kontak pengguna digunakan untuk melakukan intimidasi atau menyebarkan informasi pribadi ketika peminjam terlambat membayar.
Peserta juga didorong untuk memeriksa legalitas penyedia layanan sebelum mengajukan pinjaman.
Masyarakat perlu memastikan penyelenggara memiliki izin resmi, membaca perjanjian secara menyeluruh, serta tidak mudah tergiur oleh proses pencairan dana yang cepat.
Edukasi turut mencakup pengenalan hak-hak konsumen, serta saluran pengaduan resmi yang dapat digunakan apabila masyarakat menghadapi praktik penagihan tidak beretika atau penyalahgunaan data pribadi.
Kader Diproyeksikan Jadi Agen Literasi Digital
Kelurahan Sindang Barang memiliki sekitar 80 kader, tersebar di sejumlah rukun warga. Para kader dinilai memiliki kedekatan serta tingkat kepercayaan yang tinggi di tengah masyarakat sehingga dapat menjadi penghubung dalam menyampaikan informasi mengenai keuangan dan keamanan digital.
Melalui pendekatan training of trainers, pengetahuan yang diperoleh selama workshop diharapkan dapat disampaikan kembali oleh para kader kepada keluarga dan warga di lingkungan masing-masing.
Tim PKM berharap, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan workshop. Para kader diharapkan mampu menjadi agen literasi keuangan yang membantu warga membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko pinjaman, serta menghindari layanan keuangan ilegal.
Program Kelurahan Siaga Digital juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat diterapkan di wilayah lain. Dengan meningkatnya literasi keuangan dan keamanan digital, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung pemberdayaan ekonomi, bukan sebagai sumber persoalan keuangan baru. (*)


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.